Hmm. .lulus dari sekolah menengah, mungkin sebagian dari kebanyakan orang merasa sudah mencapai puncaknya, namun pada hakikatnya waktu inilah perjalanan menuju apa yang dicita-citakan dimulai. Sibuk mencari informasi Perguruan Tinggi Negeri itu sudah biasa, melakukan segala cara bagaimana agar bisa masuk PTN itu sudah tak asing juga, namun bagaimana jika semua usaha itu GAGAL !? sudahkah mempersiapkannya !? :)
Dan seperti sebagian dari kebanyakan orang setelah mengetahui mereka mengalami kegagalan bersaing untuk masuk di PTN, kemudian merasa minder, merasa dirinya gak berguna, stress, depresi, dsb seperti yang pernah saya alami dulu juga. .hehehe :)
Nah disini mungkin saya akan sedikit sharing, tanpa dipungkiri ketika kita tidak diterima di PTN sebagai gambaran juga bahwa memang kita tidak bisa bersaing disana, dan kalaupun kita bisa memaksa untuk masukpun pasti tak akan berjalan lancar, karena itu bukan tempat kita.
Saya hanya ingin berbagi pengalaman saja, setelah planning untuk masuk di PTN gagal, pencarian perguruan tinggi saya terhenti di Perguruang Tinggi yang bernama STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Ya, salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta yang terkenal dengan semboyan "Tempat Kuliah Orang Berdasi". Dengan keyakinan setengah penuh kala itu saya memberanikan diri untuk mendaftar di Perguruan Tinggi ini.
STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
Dan sekarang, setelah saya menjalaninya, tak sedikitpun saya ragu disini, seperti dijelaskan oleh ketua YAYASAN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA yaitu Prof. Dr. M. Suyanto, MM dalam sebuah "TalkShow" di salah satu stasiun televisi lokal di Jogja bahwa perguruan tinggi ini tidak mau pungkiri bahwa sebagian besar mahasiswa yang kuliah disini mayoritas berasal dari orang-orang yang gagal dan ujian saringan PTN dalam artian *maaf "berkemampuan rendah", dan kebanyakan mereka masuk disini dengan kondisi emosional yang sedang bergejolak, kondisi psikis yang sedang terguncang, sekaligus minim motivasi.
Prof. Dr. M. Suyanto, MM
Nah disini Prof. Dr. M. Suyanto, MM menerapkan sebuah pemikiran yang lain dari yang lain, yang disesuaikan dengan kondisi yang ada, dan dimaksimalkan dengan usaha dan kerja keras, yaitu ketika PTN lebih menerapkan 80-90% mengembangkan "knowlegde" dan 20-30% mengembangkan "attitude", namun STMIK AMIKOM YOGYAKARTA membalik semuanya, yaitu lebih condong ke pengembangan "attitude" nya, jika ditanya karena apa, jawabnya karena dengan input yang sedemikian rupa tidak bisa disamakan dengan PTN atau yang lainnya, oleh karena itu tujuan utamanya adalah "Bagaimana caranya dengan input yang sedemikian rupa, dapat melahirkan sesuatu yang besar, bukan hanya menyamai output yang di PTN bahkan bisa lebih". Melihat semuanya itu sudah jelas yang membedakan antara PTN atau yang lainya dengan STMIK AMIKOM YOGYAKARTA adalah "PROSES" nya.
Dan sebagai wujud nyata dari itu semua sebagai contoh ketika awal masuk perkuliahan di STMIK AMIKOM YOGYAKARTA diadakan Pelatihan Super Unggul (PSU) yang mana mata kuliah berbobot 2 sks ini lebih condong kearah pembenahan mental, motivasi, dan pemulihan psikis bagi mahasiswa, sehingga di pelatihan PSU ini mahasiswa diberikan pelatihan bagaimana memanage sebuah kesuksesan dan sekaligus memberikan pengarahan untuk siap menghadapi kegagalan.
Peserta "PSU"
Pelatihan PSU ini, diawali dengan pendeskripsian diri, diamana para mahasiswa diberikan tugas untuk mendeskripsikan dirinya masing-masing, segment ini disebut dengan "Who Am I" dimana disini mahasiswa dibertanyai beberapa pertanyaan tentang, apa kelebihan dirimu sendiri, kelemahan dirimu sendiri, kemudian kesuksesan apa yang pernah diraih, begitupun juga dengan kegagalan apa yang pernah dialami, dan ditutup di akhir dengan apa tujuan hidup masing-masing. Selain itu juga terdapat materi lain seperti : Goal Setting, Mengubah Kegagalan Menjadi Kesuksesan, Ikrar Diri, dan Surat Diri. Dari materi yang diajarkan, diharapkan mahasiswa baru dapat membangun diri dan memanfaatkannya dengan baik.
Nah, disitulah STMIK AMIKOM YOGYAKARTA membentuk sikap positif, sebagai bekal untuk menjadi insan yang berkompeten di persaingan selanjutnya, yaitu persaingan dunia kerja, sebagaimana dengan proses pengajaran yang disesuaikan dengan kondisi mahasiswa dan sangat berbeda dengan PTN atau yang lainnya, sehingga optimalisasi dalam pengajaran dan visi dan misinya dapat tercapai, dan tentunya dengan kerja yang super keras, berbekal tekad keyakinan dan sikap optimistis kini output lulusan STMIK AMIKOM YOGYAKARTA dapat bersaing dengan yang lain, itulah mengapa beliau bapak Prof. Dr. M. Suyanto, MM slalu menekankan bahwa kuliah di STMIK AMIKOM YOGYAKARTA seperti terlahir kembali dengan semangat baru, kekuatan yang baru, dan tentunya dengan semangat mental positif dan optimistis. Dan tak salah bukan?? Jika saya mengatakan "Bad Input" tidak ada kata mustahil untuk berakhir menjadi "Great Output". :)





kereeen brooo . . hahaha
BalasHapus